Malam yang Pekat

Standard

Ku mendongak ke langit.

Sepi sekali.

Hari ini langit sendiri.

Tanpa dihiasi sang bulan dan bintang.

Yang kedengaran cuma bunyi angin yang menemani malam.

Malam…

Kenapa kau begitu sepi?

Sesepi hatiku yang merindukan Tuhan,

Seketika hati bertanya,

Adakah diri ini sendiri?

Jawab angin,

Tidak wahai hati yang dingin,

Kamu ada Allah,

Lalu,

Hati menjerit perit,

Tidak sakit,

Tetapi mengapa air mata menitis?

Mencari-cari di mana Allah di hatinya,

Sukarnya pencarian itu,

Tangan menggapai-gapai di segenap sudut hati itu,

Gelap,

Seperti malam yang pekat,

Allah…

Di mana…

Dia menangis lagi,

Kerana dia telah menzalimi dirinya sendiri

Lalu sesat di dalam kebingungannya sendiri….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s